Rabu, 26 Maret 2014

Ilmu itu ada dimana-mana


          Pernah gak kita main ke alun alun atau ke pusat perbelanjaan, dimana kita menjumpai begitu banyak orang orang di sana. Di antara sekian banyak orang,pernah kah kita membedakan mereka menjadi dua bagian, bagian satu adalah mereka yang kesana memang untuk membeli kebutuhanya, dan sebagian yang lain adalah mereka yang kesana hanya sekedar window shoping, atau nongkrong bercengkrama dengan teman teman yang lain. Loh apa maksudnya ini ? mari saya ajak melihat lebih dalam.
Ilmu atau pengetahuan, banyak sekali dari para ahli yang mendefinisikan ini, dari mulai lughoh atau bahasa, sampai istilah, mengklasifikasikan ilmu dan pengetahuan menjadi beberapa bagian.tetapi saya ingin memberi sebagian pengetahua saya tentang ilmu dan pengetahuan yang saya dapat dari kiai saya. Kenapa kita membahas ini ? Sebentar, ini bisa jadi renungan buat kita agar kita mampu menangkap "ilmu" dari mana saja kita berada.
Waktu itu saya sedang mengaji kitab tafsir,kiai saya memberikan pertanyaan yang sedikit lucu, begini. " Coba tutup mata anda skrg satu detik saja, lalu anda buka lagi ! " Ini perintah yang saya dan teman sekelas saya lakukan, dan setelah selesai kiai saya menunjuk saya dengan berkata "lutvie, coba apa yang anda lihat dalam satu detik tadi di kelas ini ?" lalu saya menjawab " saya melihat banyak hal di kelas ini yai","Coba sebutkan apa saja?" Beliau menanyakan kembali . "Saya melihat yai , jam dinding, papan tulis dan gelas yai". kiai saya tersenyum seraya berkata "ini anda semua hanya satu detik melihat,Anda mampu menyebutkan ini jam, ini gelas, ini jam dinding,dan lain sebagainya ,dan ini hanya masih dalam lingkungan kelas. Bagaimana jika anda semua melihat 24 jam dan berbagai banyak tempat,ada berapa banyak yang bisa katakan dan berapa banyak yang kita dapat ambil “pelajaran” dari itu semua".
Teman teman, dari percakapan ringan tadi, saya menyimpulkan bahwa hanya dengan melihat saja kita mampu mendapat ilmu (pengetahuan / tahu), kita jalan ke pesar misalnya kita dapat melihat dan pernah merasakan bukan " ya allah kasian banget pengemis itu tidak mempunyai kaki, alhamdulillah saya masih di beri dua kaki yang bahkan bisa saya gunakan untuk berlari" satu, pelajaran bersyukur yang didapat dengan “melihat” seorang yang tidak berkaki sempurna di alun alun. Atau " wah banyak banget yaa yang punya dan bisa memiliki mobil, kalo banyak yang membuktikan bahwa mereka mampu mengendarai mobil dan membelinya, berarti aku pun bisa " dua, pelajaran optimisme yang kita ambil dari sebuah kemacetan di jalan raya. Atau contoh lain, " ya allah kasian banget anak kecil itu masih kecil sudah ikut orang tuanya untuk bekerja, aku kasih uang ah untuk membantu dia".Tiga , pelajaran empati dan simpati yang kita dapat dari anak kecil. Kita bisa mengembangkannya menjadi sangat luas, di lingkungan sekolah kita, di lingkungan kerja kita atau dimanapun, kita dapat mengambil ilmu dari apa dan siapa saja.
Coba kita menilik ke belakang ketika Allah menciptakan nabi adam, dan Allah langsung menjadi guru nabi Adam, allah mengajarkan semua nama nama, "adam ini loh yang namanya malaikat. Ini loh yang namanya anggur, jeruk , apel, ini loh yang namanya langit, galaxy, bintang , adam ini loh namanya sedih, ini loh namanya seneng, ini loh namanya menyakkitkan, ini loh namanya menyenangkan, yang di rekam dan disimpan adam dalam akal beliau, sehingga ia mampu berfikir, dan dengan isntrumen ini lah, adam menjadi makhluk yang lebih mulia dari pada malaikat, bahkan Allah menyuruh malaikat sujud ke nabi adam.

Oleh karena itu, mari kita lebih peka dan merasa terhadap lingkungan kita, ambil segala ilmu dari mereka dan lingkungan kita, niatkan dalam segala keadaan dan tempat untuk mencari ilmu, karena, pertama, kita tidak dapat melakukan segala hal untuk tau hikmahnya,siapa tau apa yang kita ingin tahu, di rasakan atau di alami oleh orang lain. Kedua, di dalam kuliah atau sekolah, kita niatkan "nawaitu tholabul ilmi" nya pas di kelas , coba berapa persen yang kita dapat,Tanpa di kurangi ngantuknya, ngobrol dengan teman sebangku, atau main di tinggal menengkok jejaring sosial kita ?, maka niatkan untuk mencari ilmu ketika pas bangun tidur sehingga kita mampu mengambil hikmah, pelajaran dari siapapun dan apapun,bukankah yang membedakan kita dengan hewan adalah hati untuk merasa dan akal untuk berfikir ?

Yuuk mari kita lebih peka,dan lebih meraba lingkungan kita, agar kita mampu membantu mereka yang membutuhkan pertolongan kita dan mengambil hikmah dan pelajaran dari mereka sehingga kita menjadi pribadi yang terus mencari ilmu menjadi pribadi yang lebih baik lagi.


"anak muda bebas berfikir apapun,asal jangan berhenti belajar" - KH Mustofa Bisri