Rabu, 20 November 2013

praktikum profesi,yakin hanya jadi "preman pasar" ?

Sebelumnya saya memohon maaf jika nantinya tulisan saya ini menjadi ganjalan hati para pembaca. Saya hanya berusaha melafalkan rangkaian bahasa hati yang saya rasakan. Hanya ini yang mampu saya lakukan untuk menyampaikan unek unek saya dan hak saya menyampaikan pendapat,ketimbang harus membawa megaphone sambil berteriak di atas drum di depan fakultas dakwah.

Sebenarnya saya menyambut dengan sangat antusias dengan praktikum profesi ini, mungkin tidak hanya saya, tetapi mereka yang mempunyai semangat juang untuk bekerja, terlebih mereka yang ingin bekerja di dunia pebankan karena saya perhatikan manajemen dakwah ini selalu dekat dengan BMT dan BPRS dan sudah 3 tahun ini praktikum profesi pun selalu disana sehingga –menurut saya- MD ini terkesan seperti “miniatur” jurusan Ekonomi islam di syariah. Tetapi saya selalu berkhusnudzon para panitia selalu melakukan evaluasi dari tahun ke tahun seperti yang tertulis di buku pedoman praktikum profesi dan terlebih jurusan kita ini adalah “Manajemen” dakwah yang akan selalu berusaha menghindari “kerugian”  ,terutama  menjadi orang yang merugi yang kata Rasul hari ini tidak lebih baik dari hari kemarin.

Ada dua yang ingin saya sampaikan pada tulisan ini.

Pertama kepada mahasiswa  yang mengambil praktikum profesi.

Teman seperjuangan ku,teman MD yang nantinya akan menjadi “karyawan” Gusti Allah.
Sebenarnya praktikum profesi ini jika kita ibaratkan,kita seperti disuguhkan oleh panitia sebuah telur,tepung,minyak goreng,bawang-bawangan  dan garam  serta kita di ibaratkan seperti orang yang kelaparan. Jelas kita bukan lagi anak kecil yang kebingungan dan mengatakan “ini tidak bias kita makan” . Kita sebagai mahasiswa tingkat 4 semester  7 ,pastinya akan mengambil mangkuk dan memecahkan telur kedalamnya,mengiris bawangnya memberi tepung dan menggorengnya,lalu kita kocok dan menggorengnya dengan minyak goreng. Kita puas,sebuah telur dadar tersaji “oleh” kita dan berhasil kita buat untuk mengobati lapar yang tadi diderita,syukur – syukur malah menjadi martabak yang separuhnya kita makan dan separuhnya kita bagi keteman yang sedang kelaparan juga.

Ibarat di atas sama halnya dengan praktikum profesi ini,sebenarnya banyak yang bisa kita lakukan untuk memuaskan “kelaparan” akan ilmu kita. Bukankah sewaktu pembekalan,salah satu pembicara mengatakan bahwa  “masalah terbesar mahasiswa praktikum itu ,mereka tidak tahu harus melakukan apa disana”. Apa kita lupa warning itu ? bukankah dosen praktikum kita pernah menugaskan kita untuk membuat proposal ? yang bertujuan untuk memperinci tugas kita disana ? apa mungkin kita terlalu santai sehingga,kita agak menyepelekan hal ini yang menjadi sebuah “kebosanan” yang kita alami sekarang ?

Ada mahasiswa yang mengatakan “gak enak disni kerjanya Cuma narikin duit di pasar,terus ngitung uangnya,lalu memasukan data selesai itu kita duduk manis dan tidak dapat bakso lagi”
Yakin “hanya” ?
Hanya narikin duit ?
Tidak ada yang banyak kita lakukan disana ?
Saya yakin,kita bukan lagi anak kecil yang hanya bisa menangis dan menunggu sebuah suapan datang ke mulut kita ketika kita kelaparan. Mari kita lihat lebih dalam.

Ketika kita menjadi “preman pasar” yakin hanya sebatas menagih kreditan ? Pernah gak kita lihat dan “RASA” lebih dalam hal ini. Pernahkah kita merasakan ketika yang ditagih itu tidak memiliki uang sama sekali padahal ia sudah berusaha banting tulang ? ketika sudah jatuh tempo dengan sertifikat tanah yang sudah di “sekolahkan” ke lembaga itu, lalu jadi di lelang dan berhasil terjual,mereka akan tinggal dimana ? atau ketika kita mengikuti account officer   dan menyambangi rumah yang terkena kredit masalah dan ia berkata “mas boleh nantinya uang pinjaman itu saya belikan untuk membeli laptop anak saya ?” pernah gak kita berfikir kalo orang tua itu seumpamanya orang tua kita ? yang kita terus nikmatin segala fasilitas mereka tanpa tahu hasil dari mana semua ini dan bagaimana banting tulangnya mereka bahkan sampai setengah mati untuk melunasinya. Sehingga menyadarkan kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi . Pernah kefikir ? tidak ? jelas! Kita hanya sibuk menangis dan mengeluh ketika kita disajikan “barang mentah” di hadapan kita.
Itu namanya kalo bagi kaum santri  adalah ngelmu rasa , ilmu tertinggi. Setara kah dengan bakso yang harganya hanya Lima ribu per mangkuk ? itu mengajari kita untuk merasakan apa yang orang lain rasakan,bukan untuk ikut meratapi saja, tetapi bagaimana agar mereka mereka itu bisa hidup lebih baik lagi dan tidak ada mereka-mereka yg lain lagi nantinya, dan kita  terhindar menjadi orang yang seperti itu. Lagi lagi kita sedang belajar ngelmu rasa .merasakan, peka terhadap lingkungan, bukankah pribadi yang terbaik kata Rasul dan Rabbnya adalah pribadi yang bermanfaat bagi orang lain ?

Banyak sebenarnya yang bisa kita lakukan.
Mau tau lebih dalam real nya akad mudhorobah ? Tanya !
Mau tau operasionalnya ? Tanya !
Mau tau ini dan itu ? Tanya!
Karena kita sedang “kelaparan” bukan ?

Cobalah lebih aktif dan kobarkan rasa ingin tahu kita,sapalah mereka, akrabi mereka ,sehingga nantinya mereka akan lebih merasa dekat dengan kita, mereka segan karena mereka tidak akarab dengan kita. Masih belum ada juga ? pergi kebelakang dan ajak ngobrol satpam ,office boy .tanya kehidupan mereka dan nanti kita akan banyak mendapatkan ilmu dari mereka.

Kalo kita meminjam bahasa al qur’an.  Innallaha laa yugoyiru maa bi “praktikumin” , hatta yugoyiru maa bi angfusihim.  Praktikum kita menyenangkan atau tidak, mendapat ilmu atau sia sia yaa tergantung kita. Jika kita tidak berubah dan melakukan sesuatu , lingkungan dan sekitar kita tidak akan penah berubah. Dunia ini kausalitas terbesar sobat, kita menanam kebaikan pasti akan lahir kebaikan pula.Tergantung kita.


Yang kedua untuk panitia prktikum profesi.

Terimakasih bapak dan ibu,karena kami hanya “tinggal” masuk ke lembaga tanpa harus repot repot mengurusi sana sini seperti jurusan lain.

Ketika saya mengobrol dengan salah satu pimpinan BPRS yang saya tempati di jalan kaliurang –saya kos di jalan paris-  dan beliau pun adalah salah satu dosen di jurusan MD, bapak ini keheranan dan berkata “kenapa Manajemen Dakwah selalu magang di BMT dan BPRS, padahal lembaga yang Manajemennya bagus itu banyak” bahkan beliau pun mengatakan (maaf) kurang inovativ karena sudah 3 tahun beliau menjadi pimpinan sana selalu ada mahasiswa MD,,itu pun karena,kata beliau, ada beiau disana. Beliau melanjutkan, kenapa tidak di coba di bidang yang lain, di Kementrian agama, lembaga zakat, organisasi muhammadiyah dan nahdlotul ulama atau salon kecantikan macam jhonny andrean ,manajemen persewaan jasa gedung seperti mandala wanitama atau jogja expo centre atau di bidang kuliner seperti Waroeng grup. Atau di lemaga dan bidang yang lain yang lebih berfariasi sehingga dapat menggambil atau bahkan menerapkan sisi kedakwahan kita di bidang itu,dan tentunya kita dapat mengambil manajemen dari lembaga itu serta menambah khasanah keilmuan kita karena referensi manajemen kita banyak. Bisa jadi lembaga lembaga itu adalah cita cita salah satu atau salah dua dari mahasiswa MD sehingga nanti akan melecut semangat dalam matakuliah praktikum  profesi.

Selanjutnya ,bapak dan ibu, sepertinya harus tetap menetpkan point apa yang ibu dan bapak harapkan dalam matakuliah ini,sehingga mereka yang tidak tahu harus berbuat apa menjadi lebih tahu,ini bisa di peroleh ketika wawancara, mereka senang di bidang apa, dan mahasiswa lebih tahu dan mengerti harus melakukan apa nantinya.

Sekian coretan dari saya ini, sekali lagi mohon maaf jika banyak kata yang salah ,saya hanya menyampaikan apa yang saya rasa karena hanya ini yang bisa saya lakukan. Semuanya demi MD dan lulusan MD yang lebih baik dan berkualitas tanpa harus gengsi menyebutkan “aku lulusan manajemen dakwah”



10240016 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar