Sebelumnya saya memohon maaf jika
nantinya tulisan saya ini menjadi ganjalan hati para pembaca. Saya hanya
berusaha melafalkan rangkaian bahasa hati yang saya rasakan. Hanya ini yang
mampu saya lakukan untuk menyampaikan unek unek saya dan hak saya menyampaikan
pendapat,ketimbang harus membawa megaphone
sambil berteriak di atas drum di depan fakultas dakwah.
Sebenarnya saya menyambut dengan
sangat antusias dengan praktikum profesi ini, mungkin tidak hanya saya, tetapi
mereka yang mempunyai semangat juang untuk bekerja, terlebih mereka yang ingin
bekerja di dunia pebankan karena saya perhatikan manajemen dakwah ini selalu
dekat dengan BMT dan BPRS dan sudah 3 tahun ini praktikum profesi pun selalu
disana sehingga –menurut saya- MD ini terkesan seperti “miniatur” jurusan
Ekonomi islam di syariah. Tetapi saya selalu berkhusnudzon para panitia selalu
melakukan evaluasi dari tahun ke tahun seperti yang tertulis di buku pedoman
praktikum profesi dan terlebih jurusan kita ini adalah “Manajemen” dakwah yang
akan selalu berusaha menghindari “kerugian”
,terutama menjadi orang yang merugi
yang kata Rasul hari ini tidak lebih baik dari hari kemarin.
Ada dua yang ingin saya sampaikan
pada tulisan ini.
Pertama kepada mahasiswa yang mengambil praktikum profesi.
Teman seperjuangan ku,teman MD yang
nantinya akan menjadi “karyawan” Gusti Allah.
Sebenarnya praktikum profesi ini jika
kita ibaratkan,kita seperti disuguhkan oleh panitia sebuah telur,tepung,minyak goreng,bawang-bawangan
dan garam serta kita di ibaratkan seperti orang yang
kelaparan. Jelas kita bukan lagi anak kecil yang kebingungan dan mengatakan “ini
tidak bias kita makan” . Kita sebagai mahasiswa tingkat 4 semester 7 ,pastinya akan mengambil mangkuk dan
memecahkan telur kedalamnya,mengiris bawangnya memberi tepung dan
menggorengnya,lalu kita kocok dan menggorengnya dengan minyak goreng. Kita puas,sebuah
telur dadar tersaji “oleh” kita dan berhasil kita buat untuk mengobati lapar
yang tadi diderita,syukur – syukur malah menjadi martabak yang separuhnya kita
makan dan separuhnya kita bagi keteman yang sedang kelaparan juga.
Ibarat di atas sama halnya dengan
praktikum profesi ini,sebenarnya banyak yang bisa kita lakukan untuk memuaskan “kelaparan”
akan ilmu kita. Bukankah sewaktu pembekalan,salah satu pembicara mengatakan
bahwa “masalah terbesar mahasiswa
praktikum itu ,mereka tidak tahu harus melakukan apa disana”. Apa kita lupa warning itu ? bukankah dosen praktikum
kita pernah menugaskan kita untuk membuat proposal ? yang bertujuan untuk
memperinci tugas kita disana ? apa mungkin kita terlalu santai sehingga,kita
agak menyepelekan hal ini yang menjadi sebuah “kebosanan” yang kita alami
sekarang ?
Ada mahasiswa yang mengatakan “gak
enak disni kerjanya Cuma narikin duit di pasar,terus ngitung uangnya,lalu
memasukan data selesai itu kita duduk manis dan tidak dapat bakso lagi”
Yakin “hanya” ?
Hanya narikin duit ?
Tidak ada yang banyak kita lakukan
disana ?
Saya yakin,kita bukan lagi anak kecil
yang hanya bisa menangis dan menunggu sebuah suapan datang ke mulut kita ketika
kita kelaparan. Mari kita lihat lebih dalam.
Ketika kita menjadi “preman pasar”
yakin hanya sebatas menagih kreditan ? Pernah gak kita lihat dan “RASA” lebih
dalam hal ini. Pernahkah kita merasakan ketika yang ditagih itu tidak memiliki
uang sama sekali padahal ia sudah berusaha banting tulang ? ketika sudah jatuh
tempo dengan sertifikat tanah yang sudah di “sekolahkan” ke lembaga itu, lalu
jadi di lelang dan berhasil terjual,mereka akan tinggal dimana ? atau ketika
kita mengikuti account officer dan menyambangi rumah yang terkena kredit
masalah dan ia berkata “mas boleh nantinya uang pinjaman itu saya belikan untuk
membeli laptop anak saya ?” pernah gak kita berfikir kalo orang tua itu
seumpamanya orang tua kita ? yang kita terus nikmatin segala fasilitas mereka
tanpa tahu hasil dari mana semua ini dan bagaimana banting tulangnya mereka
bahkan sampai setengah mati untuk melunasinya. Sehingga menyadarkan kita untuk
menjadi pribadi yang lebih baik lagi . Pernah kefikir ? tidak ? jelas! Kita hanya
sibuk menangis dan mengeluh ketika kita disajikan “barang mentah” di hadapan
kita.
Itu namanya kalo bagi kaum santri adalah ngelmu
rasa , ilmu tertinggi. Setara kah dengan bakso yang harganya hanya Lima
ribu per mangkuk ? itu mengajari kita untuk merasakan apa yang orang lain
rasakan,bukan untuk ikut meratapi saja, tetapi bagaimana agar mereka mereka itu
bisa hidup lebih baik lagi dan tidak ada mereka-mereka yg lain lagi nantinya,
dan kita terhindar menjadi orang yang
seperti itu. Lagi lagi kita sedang belajar ngelmu
rasa .merasakan, peka terhadap lingkungan, bukankah pribadi yang terbaik
kata Rasul dan Rabbnya adalah pribadi yang bermanfaat bagi orang lain ?
Banyak sebenarnya yang bisa kita
lakukan.
Mau tau lebih dalam real nya akad mudhorobah ? Tanya !
Mau tau operasionalnya ? Tanya !
Mau tau ini dan itu ? Tanya!
Karena kita sedang “kelaparan” bukan
?
Cobalah lebih aktif dan kobarkan rasa
ingin tahu kita,sapalah mereka, akrabi mereka ,sehingga nantinya mereka akan
lebih merasa dekat dengan kita, mereka segan karena mereka tidak akarab dengan
kita. Masih belum ada juga ? pergi kebelakang dan ajak ngobrol satpam ,office boy .tanya kehidupan mereka dan
nanti kita akan banyak mendapatkan ilmu dari mereka.
Kalo kita meminjam bahasa al qur’an. Innallaha
laa yugoyiru maa bi “praktikumin” ,
hatta yugoyiru maa bi angfusihim. Praktikum
kita menyenangkan atau tidak, mendapat ilmu atau sia sia yaa tergantung kita. Jika
kita tidak berubah dan melakukan sesuatu , lingkungan dan sekitar kita tidak
akan penah berubah. Dunia ini kausalitas
terbesar sobat, kita menanam kebaikan pasti akan lahir kebaikan pula.Tergantung
kita.
Yang kedua untuk panitia prktikum
profesi.
Terimakasih bapak dan ibu,karena kami
hanya “tinggal” masuk ke lembaga tanpa harus repot repot mengurusi sana sini
seperti jurusan lain.
Ketika saya mengobrol dengan salah
satu pimpinan BPRS yang saya tempati di jalan kaliurang –saya kos di jalan
paris- dan beliau pun adalah salah satu
dosen di jurusan MD, bapak ini keheranan dan berkata “kenapa Manajemen Dakwah
selalu magang di BMT dan BPRS, padahal lembaga yang Manajemennya bagus itu
banyak” bahkan beliau pun mengatakan (maaf) kurang inovativ karena sudah 3
tahun beliau menjadi pimpinan sana selalu ada mahasiswa MD,,itu pun karena,kata
beliau, ada beiau disana. Beliau melanjutkan, kenapa tidak di coba di bidang
yang lain, di Kementrian agama, lembaga zakat, organisasi muhammadiyah dan
nahdlotul ulama atau salon kecantikan macam jhonny
andrean ,manajemen persewaan jasa gedung seperti mandala wanitama atau
jogja expo centre atau di bidang kuliner seperti Waroeng grup. Atau di lemaga
dan bidang yang lain yang lebih berfariasi sehingga dapat menggambil atau
bahkan menerapkan sisi kedakwahan kita di bidang itu,dan tentunya kita dapat
mengambil manajemen dari lembaga itu serta menambah khasanah keilmuan kita
karena referensi manajemen kita banyak. Bisa jadi lembaga lembaga itu adalah
cita cita salah satu atau salah dua dari mahasiswa MD sehingga nanti akan melecut
semangat dalam matakuliah praktikum
profesi.
Selanjutnya ,bapak dan ibu,
sepertinya harus tetap menetpkan point apa yang ibu dan bapak harapkan dalam
matakuliah ini,sehingga mereka yang tidak tahu harus berbuat apa menjadi lebih
tahu,ini bisa di peroleh ketika wawancara, mereka senang di bidang apa, dan
mahasiswa lebih tahu dan mengerti harus melakukan apa nantinya.
Sekian coretan dari saya ini, sekali
lagi mohon maaf jika banyak kata yang salah ,saya hanya menyampaikan apa yang
saya rasa karena hanya ini yang bisa saya lakukan. Semuanya demi MD dan lulusan
MD yang lebih baik dan berkualitas tanpa harus gengsi menyebutkan “aku lulusan
manajemen dakwah”
10240016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar